widgeo.net

Senin, 01 September 2014

Jodoh Pasti Bertemu

 “Din, aku lolos SNMPTN! Aku diterima di UGM!!”
Aku cuma bisa menatap matanya lurus-lurus. Binar matanya memancarkan luapan kebahagiaan yang sekarang dia rasakan. Riki, sekarang resmi diterima di UGM. Universitas Gadjah Mada, di Jogja, dan aku di Jakarta. LDR… huh.
Aku diam saja saat Riki semangat bercerita tentang seluk beluk UGM, kelebihan UGM,  semua hal menarik tentang Jogja, dan betapa beruntungnya dia bisa masuk UGM. Bisa masuk Universitas negeri memang impian terbesar Riki sejak masih duduk di bangku SMA. Aku dan Riki sama-sama mendaftar masuk UGM, tapi aku gagal. Riki memang lebih pintar, dan bukan sebuah kejutan besar kalau dia bisa masuk UGM dan masuk dalam ‘10 besar nilai tertinggi’
***

Bandara Soekarno Hatta
Aku benci saat hari ini akhirnya harus datang juga. Hari ini, aku bersama keluarganya mengantar kepergian Riki ke Jogja. Perkuliahan baru dimulai minggu depan, tapi Riki bilang, sebagai anak kost dia harus banyak persiapan disana. Jadi hari ini dia harus berangkat. Ya, hari ini. Hari ini hari terakhir aku melihat dia dan senyumnya secara ‘live’, setidaknya sampai 6 bulan kedepan. Oh..
“Kamu baik-baik disana, ya. Jangan males mandi, jangan lupa makan, jangan lupa sholat, jangan selingkuh, jangan deket-deketin cewek-cewek Jogja yang cantik-cantik disana, jangan lupa hubungin aku juga, ya”, aku memberikan nasihat kecil sebelum dia pergi.
 “Iya, kamu juga baik-baik disini, ya. Jangan cengeng, jangan males belajar, jangan selingkuh, jangan mau dideketin sama cowok-cowok Jakarta yang gak lebih ganteng dari aku. Tungguin aku pulang” Riki membalas memberikan nasihat juga.
Riki melangkahkan kakinya meninggalkanku sambil menyiapkan tiketnya. Tapi, sesaat kemudian dia berbalik arah, dan kembali menghampiriku.
“Kenapa balik lagi?”
Riki tersenyum kepadaku. “Lupa, hari ini belum bilang ‘aku sayang kamu’” oh, Riki selalu tahu cara membuatku ‘meleleh’. Dia selalu ingat perjanjian 3 tahun lalu, sejak hari pertama kami jadian. Perjanjian yang berisi kalau setiap hari Riki wajib mengucapkan kata ‘aku sayang kamu’, minimal 1 kali dalam sehari. Perjanjian yang lucu dan aneh, tapi Riki selalu mengingat itu setiap hari.

Bulir-bulir air mataku mulai berjatuhan lagi. “Aku juga sayang kamu” jawabku sambil memeluknya.
Riki ikut memelukku sambil mengelus rambut panjangku. “Tuh, baru dibilangin jangan cengeng, sekarang udah nangis lagi”
“Biarin” kataku, manja sambil terus memeluknya.
***
Jakarta – Jogja, bulan pertama
Oh iya, ini sudah 1 minggu aku dan Riki jadi ‘anggota’ LDR. 1 minggu gak bertemu dia rasanya aneh juga, soalnya dulu saat masih sekolah kami hampir setiap hari bertemu. Jadi aku dan Riki sudah janjian lewat SMS, kalau nanti malam kita akan ber-skype-an. Aku jadi gak sabar menunggu malam hihi…
Jakarta – Jogja, bulan ke-3…
Satu bulan pertama, hubungan LDR aku dan Riki masih manis, rasanya gak ada jarak yang memisahkan kita. Tapi di bulan-bulan berikutnya Riki mulai terasa jauh. Jangankan nelpon dan SMS, nyalain telepon aja jarang. Online lewat Twitter atau Skype juga jarang. Somehow, aku mulai merasa kehilangan dia.
***
Akhir-akhir ini aku lagi banyak masalah di kampus. Tugas lagi banyak-banyaknya, belum lagi aku belum bisa beradaptasi sama pergaulan teman-teman di kampus yang beda jauh sama teman-teman di SMA dulu. Kalau sudah begini, aku jadi kangen teman-teman SMA, termasuk sama Riki juga.
Aku mulai berpikir, percuma juga punya pacar tapi gak pernah saling ketemu. Apa gunanya punya pacar kalau saat dibutuhin dia malah gak ada? Ya aku tahu, disana Riki sibuk kuliah, tapi kalau kita putus bukannya bakal lebih baik? Riki bisa serius kuliah tanpa aku ganggu, dan aku gak perlu khawatir atau nangis semalaman karena memikirkan Riki terus. Tapi, bilang kata “putus” masih terlalu berat untukku.
Aku masih bergelut dengan tugas kuliahku yang setumpuk, saat handphone yang kusimpan dia atas meja berdering. Tertulis nama Riki di layarnya. Aku mengangkatnya malas-malasan.
“halo”
“halo, sayang. Lagi ngapain?”
“lagi sibuk. Tumben kamu nelpon, aku kira udah lupa sama aku!!” jawabku ketus.
“kamu kenapa lagi, sih? Lagi PMS, ya?”
“kalau tiap ngomong sama kamu rasanya kayak PMS terus, tahu gak?! Bikin emosi, jadi pengen marah-marah terus!!!”
“nyalain skype sekarang, ya. Kita ngomong langsung, biar jelas ceritanya” aku langsung menyalakan account skype-ku, dan gak lama wajah tampan Riki sudah mucul di layar laptop. Sedangkan wajahku masih cemberut.
“jadi ada masalah apa sama kampus? Kenapa juga pengen putus?” tanya Riki.
 “aku lagi pusing banget, temen-temen di kampus beda banget sama temen-temen di SMA. Mereka kayaknya gak suka sama aku, kayaknya ngerendahin aku banget. Aku gak suka sifat mereka yang sombong-sombong itu. Belum lagi tugas kuliah lagi banyak-banyaknya. Gak ada kamu yang bantuin aku. Kamu malah ngilang, aku hubungin gak bisa. Aku kan butuh kamu” 
“jadi karena itu pengen putus?” tanya Riki lagi, aku mengangguk pelan. “kamu harus belajar buat ngadapin semua masalah kamu secara dewasa, jangan kayak anak kecil terus. Kamu harus lebih kuat, kamu terlalu lemah jadi cewek!”
Aku rasa kata-kata Riki kali ini agak kasar, walaupun ada benarnya juga. Tapi.. yang aku butuh sekarang cuma dia, ada disini. “iya, aku lemah banget.. makanya aku butuh kamu..” kataku pelan. Suaraku melemah, dan aku mulai menangis, lagi. Tapi tangisan kali ini lebih panjang.
“kita berjuang sama-sama, ya? Kamu berjuang nyelesain kuliah disana, aku juga berjuang nyelesain kuliah disini. 3 bulan lagi aku pulang, selama itu kamu pasti kuat ngadapin masalah kamu sendiri. Semangat ya, aku sayang kamu”
“aku juga sayang kamu.” kataku sambil mengelap air mata.
***
Jakarta, bulan ke-6
Akhirnya hari ini datang juga. Setelah melewati berbagai macam berantem-baikkan 6 bulan LDR-an, Riki akhirnya pulang juga ke Jakarta. Pesawat  Riki baru akan landing di bandara tengah malam nanti. Riki melarang aku ikut menjemput, karena waktunya terlalu malam dan besoknya aku masih harus ke kampus.
Jadi, Riki sudah berjanji untuk menjemputku dari kampus siang ini.  Ini pertemuan pertama kita setelah 6 bulan cuma bekomunikasi lewat telepon atau skype.
Ini sudah lewat dari 30 menit dari waktu yang sudah kita sepakati, tapi belum ada tanda-tanda dia sudah tiba di kampus. Apa dia lupa? Aghh..
“halo, kamu dimana? Ini udah telat 30 menit!! Kamu lupa mau jemput aku, ya?” kataku lewat sambungan telepon.
“nggak lupa, sayang. Tadi ada urusan penting sebentar, ini lagi mau jalan. Tutup dulu teleponnya, ya. Kalau kamu nelpon terus aku gak bisa nyetir”
“ya udah, aku tunggu 30 menit lagi. Kalau kamu masih belum dateng juga, aku pulang sendiri aja!”
Telepon terputus.
***
Telat 30 menit kedua sudah terlewati. Ini berarti sudah 1 jam Riki ngaret. Aku putuskan untuk pulang sendiri naik kendaraan umum. Ini berarti, hari pertama kita bertemu lagi akan dihabiskan dengan berantem, lagi.
Di dalam angkutan umum, aku mencoba menelpon Riki lagi untuk bilang kalau rencana ngedate kita resmi batal. Lama gak ada jawaban, sampai akhirnya telepon diangkat juga.
“halo” terdengar suara perempuan di seberang sana. Loh? Kok suara cewek?
“halo, ini siapa ya?” tanyaku ragu-ragu.
“ini tante, maminya Riki. Dina, kan?”  Apa? maminya Riki nelpon? Aku makin bingung.
“iya, ini Dina, tante. Riki nya ada?”
“iya itu, Din. Riki tadi baru aja kecelakaan, tabrakan. Tante sekarang lagi ada di rumah sakit. Nunggu hasil pemeriksaannya Riki
Astaga, Riki kecelakaan!! Rasanya seluruh tubuhku langsung lemas. Aku bahkan hampir menjatuhkan handphone yang kupegang. “Sekarang ada di rumah sakit mana, tante?” tanyaku, panik.
“di RS. Medica. Kalau bisa Dina cepet kesini, temenin tante. Soalnya tante sendirian disini. Papi sama Arina belum bisa kesini”
“iya, tante. Aku kesana sekarang. Makasih”
***

 “hai..”
Tanpa menjawab sapaannya, aku langsung duduk di bangku samping tempat tidurnya dan mengelus lembut wajahnya yang dihiasi memar di bagian kening. “kamu kenapa?  Kok jadi kayak gini?” tanyaku, panik sambil menangis.
“aku gak papa. Cuma kecelakaan kecil aja tadi. Gak hati-hati, sih” Riki menjawab sambil tetap tersenyum. Gak terlihat kalau tadi dia baru saja terlibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.
“kecelakaan kecil?! gak papa gimana?! Tangan kamu patah, masih bisa bilang gak papa? Ini jelas ada apa-apa, Riki!!” tangisku tambah keras.
“aku yang sakit, kok kamu yang nangis?” Riki malah tertawa.
“kan, aku yang salah. Aku yang nyuruh kamu buru-buru tadi”
“Yang nyetir itu aku, bukan kamu. Jadi yang salah ya, aku. Lagian aku beneran gak papa, kok. Cuma patah tulang dikit. Aku masih hidup, masih bisa ngobrol sama kamu, gini. Apanya yang apa-apa?”
“tapi, kamu juga salah sih” Riki tiba-tiba jadi serius.
“aku minta maaf, ya?” kataku, pelan.
“aku maafin, tapi kamu harus…” Riki tersenyum penuh kemenangan. “cium aku dulu”
Wajahku langsung merah padam. “ih, apaan sih!! Bercanda terus!!”
“siapa yang bercanda? Kamu memang beneran salah. Jengukin pacar yang lagi sakit, bukannya disayang-sayang malah ditangisin”
“iya deh, aku minta maaf ya, sayang” kataku sambil membelai pelan rambutnya.
“eh, ngomong-ngomong kamu kok cantikan sekarang? Lagi punya gebetan baru di kampus, ya?”
“ih, kok nanyanya kayak gitu, sih? Nggak lah!!”
“ya udah, gak usah marah gitu. Bercanda, kok hahaha..” Riki lalu menatap mataku dalam-dalam. “kalau kita berdua udah lulus kuliah, nikah yuk?”
“kita kan masih 18 tahun, jangan ngomongin nikah-nikahan dulu, ah. Belajar dulu yang bener, baru nikah” kataku sambil tersenyum manis.
“tapi tungguin, ya? 3,5 tahun lagi aku baru bisa balik ke Jakarta”
Aku mengangguk pasti. “iya, aku tungguin”
“ngomong-ngomong, gak mau peluk, nih? Gak kangen?” Riki merentangkan tangan kirinya.
“gak ah, lagi gak kangen” candaku.
“aduh, badan aku sakit semua, nih” Riki tiba-tiba mengerang kesakitan. Aku langsung panik. “kayaknya harus kamu peluk, biar gak sakit”
Hhh.. bercanda lagi. Tapi kali ini aku gak mau marah, aku langsung memeluknya. Riki lalu membelai rambutku dengan tangan kirinya, lalu mencium keningku. “aku sayang kamu, Din”

***

18 komentar:

  1. sweet banget yu, keren keren :D

    BalasHapus
  2. Penyampaian bahasa nya bagus cuma panjang sekali
    Perbaiki lagi penggunaan kata depannya
    Cerita yang bagus tentang kisah anak remaja

    BalasHapus
  3. benar-benar bagus ceritanya :) memukau :D

    BalasHapus
  4. Manis sekali pilihan katanya untuk kisah cinta LDR ini hihi

    BalasHapus
  5. So sweet ki .. tapi bagian akhirnya aku tidak suka karena ada adegan yang tidak baik pakai di peluk, ma cium kening .. huh

    BalasHapus
  6. so sweet yu, kerennn deh pokoke :D
    cara penyampaiannya juga bagus..

    BalasHapus
  7. Hahha bagus saya suka saya suka :3 ketiga-tiganya

    BalasHapus
  8. ketawa2 sendiri aku bacanya be, keren tapi jangan kepanjangan ya terus tadi ada typo tuh aturanya riki bukan arif ya kan ?

    BalasHapus
  9. aduh, ceritanya mantaf yu, bikin enveh :D

    BalasHapus
  10. i love this story :D So sweet bgt :)

    BalasHapus
  11. sweet ..tpi gua masih pra 17 blm 17++ haha.. lanjutkan

    BalasHapus