Aku cuma bisa menatap matanya lurus-lurus. Binar matanya
memancarkan luapan kebahagiaan yang sekarang dia rasakan. Riki, sekarang resmi
diterima di UGM. Universitas Gadjah Mada, di Jogja, dan aku di Jakarta. LDR…
huh.
Aku diam saja saat Riki semangat bercerita tentang seluk
beluk UGM, kelebihan UGM, semua hal menarik tentang Jogja, dan
betapa beruntungnya dia bisa masuk UGM. Bisa masuk Universitas negeri memang
impian terbesar Riki sejak masih duduk di bangku SMA. Aku dan Riki sama-sama
mendaftar masuk UGM, tapi aku gagal. Riki memang lebih pintar, dan bukan sebuah
kejutan besar kalau dia bisa masuk UGM dan masuk dalam ‘10 besar nilai
tertinggi’
***
Aku benci saat hari ini akhirnya harus datang juga. Hari
ini, aku bersama keluarganya mengantar kepergian Riki ke Jogja. Perkuliahan
baru dimulai minggu depan, tapi Riki bilang, sebagai anak kost dia harus banyak
persiapan disana. Jadi hari ini dia harus berangkat. Ya, hari ini. Hari ini
hari terakhir aku melihat dia dan senyumnya secara ‘live’, setidaknya
sampai 6 bulan kedepan. Oh..
“Kamu baik-baik disana, ya.
Jangan males mandi, jangan lupa makan, jangan lupa sholat, jangan selingkuh,
jangan deket-deketin cewek-cewek Jogja yang cantik-cantik disana, jangan lupa
hubungin aku juga, ya”, aku memberikan nasihat kecil sebelum dia pergi.
“Iya, kamu juga baik-baik
disini, ya. Jangan cengeng, jangan males belajar, jangan selingkuh, jangan mau
dideketin sama cowok-cowok Jakarta yang gak lebih ganteng dari aku. Tungguin
aku pulang” Riki membalas memberikan nasihat juga.
Riki melangkahkan kakinya
meninggalkanku sambil menyiapkan tiketnya. Tapi, sesaat kemudian dia berbalik
arah, dan kembali menghampiriku.
“Kenapa balik lagi?”
Riki tersenyum kepadaku. “Lupa,
hari ini belum bilang ‘aku sayang kamu’” oh, Riki selalu tahu cara membuatku
‘meleleh’. Dia selalu ingat perjanjian 3 tahun lalu, sejak hari pertama kami
jadian. Perjanjian yang berisi kalau setiap hari Riki wajib mengucapkan kata
‘aku sayang kamu’, minimal 1 kali dalam sehari. Perjanjian yang lucu dan aneh,
tapi Riki selalu mengingat itu setiap hari.
Bulir-bulir air mataku mulai
berjatuhan lagi. “Aku juga sayang kamu” jawabku sambil memeluknya.
Riki ikut memelukku sambil
mengelus rambut panjangku. “Tuh, baru dibilangin jangan cengeng, sekarang udah
nangis lagi”
“Biarin” kataku, manja sambil
terus memeluknya.
***
Jakarta – Jogja, bulan pertama
Oh iya, ini sudah 1 minggu aku dan Riki jadi ‘anggota’ LDR.
1 minggu gak bertemu dia rasanya aneh juga, soalnya dulu saat masih sekolah
kami hampir setiap hari bertemu. Jadi aku dan Riki sudah janjian lewat SMS,
kalau nanti malam kita akan ber-skype-an. Aku jadi gak sabar menunggu malam
hihi…
Jakarta – Jogja, bulan ke-3…
Satu bulan pertama, hubungan LDR aku dan Riki masih manis,
rasanya gak ada jarak yang memisahkan kita. Tapi di bulan-bulan berikutnya Riki
mulai terasa jauh. Jangankan nelpon dan SMS, nyalain telepon aja jarang. Online
lewat Twitter atau Skype juga jarang. Somehow, aku mulai merasa kehilangan dia.
***
Akhir-akhir ini aku lagi banyak masalah di kampus. Tugas
lagi banyak-banyaknya, belum lagi aku belum bisa beradaptasi sama pergaulan
teman-teman di kampus yang beda jauh sama teman-teman di SMA dulu. Kalau sudah
begini, aku jadi kangen teman-teman SMA, termasuk sama Riki juga.
Aku mulai berpikir, percuma juga punya pacar tapi gak pernah
saling ketemu. Apa gunanya punya pacar kalau saat dibutuhin dia malah gak ada?
Ya aku tahu, disana Riki sibuk kuliah, tapi kalau kita putus bukannya bakal
lebih baik? Riki bisa serius kuliah tanpa aku ganggu, dan aku gak perlu
khawatir atau nangis semalaman karena memikirkan Riki terus. Tapi, bilang kata
“putus” masih terlalu berat untukku.
Aku masih bergelut dengan tugas kuliahku yang setumpuk, saat
handphone yang kusimpan dia atas meja berdering. Tertulis nama Riki di
layarnya. Aku mengangkatnya malas-malasan.
“halo”
“halo, sayang. Lagi ngapain?”
“lagi sibuk. Tumben kamu nelpon,
aku kira udah lupa sama aku!!” jawabku ketus.
“kamu kenapa lagi, sih? Lagi
PMS, ya?”
“kalau tiap ngomong sama kamu
rasanya kayak PMS terus, tahu gak?! Bikin emosi, jadi pengen marah-marah
terus!!!”
“nyalain skype sekarang, ya.
Kita ngomong langsung, biar jelas ceritanya” aku langsung menyalakan account
skype-ku, dan gak lama wajah tampan Riki sudah mucul di layar laptop. Sedangkan
wajahku masih cemberut.
“jadi ada masalah apa sama
kampus? Kenapa juga pengen putus?” tanya Riki.
“aku lagi pusing banget, temen-temen di kampus
beda banget sama temen-temen di SMA. Mereka kayaknya gak suka sama aku,
kayaknya ngerendahin aku banget. Aku gak suka sifat mereka yang sombong-sombong
itu. Belum lagi tugas kuliah lagi banyak-banyaknya. Gak ada kamu yang bantuin
aku. Kamu malah ngilang, aku hubungin gak bisa. Aku kan butuh kamu”
“jadi karena itu pengen putus?”
tanya Riki lagi, aku mengangguk pelan. “kamu harus belajar buat ngadapin semua
masalah kamu secara dewasa, jangan kayak anak kecil terus. Kamu harus lebih
kuat, kamu terlalu lemah jadi cewek!”
Aku rasa kata-kata Riki kali ini
agak kasar, walaupun ada benarnya juga. Tapi.. yang aku butuh sekarang cuma
dia, ada disini. “iya, aku lemah banget.. makanya aku butuh kamu..” kataku
pelan. Suaraku melemah, dan aku mulai menangis, lagi. Tapi tangisan kali ini
lebih panjang.
“kita berjuang sama-sama, ya?
Kamu berjuang nyelesain kuliah disana, aku juga berjuang nyelesain kuliah
disini. 3 bulan lagi aku pulang, selama itu kamu pasti kuat ngadapin masalah
kamu sendiri. Semangat ya, aku sayang kamu”
“aku juga sayang kamu.” kataku
sambil mengelap air mata.
***
Jakarta, bulan ke-6
Akhirnya hari ini datang juga. Setelah melewati berbagai
macam berantem-baikkan 6 bulan LDR-an, Riki akhirnya pulang juga ke Jakarta.
Pesawat Riki baru akan landing di
bandara tengah malam nanti. Riki melarang aku ikut menjemput, karena waktunya
terlalu malam dan besoknya aku masih harus ke kampus.
Jadi, Riki sudah berjanji untuk menjemputku dari kampus
siang ini. Ini pertemuan pertama kita setelah 6 bulan cuma
bekomunikasi lewat telepon atau skype.
Ini sudah lewat dari 30 menit dari waktu yang sudah kita
sepakati, tapi belum ada tanda-tanda dia sudah tiba di kampus. Apa dia lupa?
Aghh..
“halo, kamu dimana? Ini udah
telat 30 menit!! Kamu lupa mau jemput aku, ya?” kataku lewat sambungan telepon.
“nggak lupa, sayang. Tadi ada
urusan penting sebentar, ini lagi mau jalan. Tutup dulu teleponnya, ya. Kalau
kamu nelpon terus aku gak bisa nyetir”
“ya udah, aku tunggu 30 menit
lagi. Kalau kamu masih belum dateng juga, aku pulang sendiri aja!”
Telepon terputus.
***
Telat 30 menit kedua sudah terlewati. Ini berarti sudah 1
jam Riki ngaret. Aku putuskan untuk pulang sendiri naik kendaraan umum. Ini
berarti, hari pertama kita bertemu lagi akan dihabiskan dengan berantem, lagi.
Di dalam angkutan umum, aku mencoba menelpon Riki lagi untuk
bilang kalau rencana ngedate kita resmi batal. Lama gak ada jawaban, sampai
akhirnya telepon diangkat juga.
“halo” terdengar suara perempuan
di seberang sana. Loh? Kok suara cewek?
“halo, ini siapa ya?” tanyaku
ragu-ragu.
“ini tante, maminya Riki. Dina,
kan?” Apa? maminya Riki nelpon? Aku makin bingung.
“iya, ini Dina, tante. Riki nya
ada?”
“iya itu, Din. Riki tadi baru
aja kecelakaan, tabrakan. Tante sekarang lagi ada di rumah sakit. Nunggu hasil
pemeriksaannya Riki”
Astaga, Riki kecelakaan!!
Rasanya seluruh tubuhku langsung lemas. Aku bahkan hampir menjatuhkan handphone
yang kupegang. “Sekarang ada di rumah sakit mana, tante?” tanyaku, panik.
“di RS. Medica. Kalau bisa Dina
cepet kesini, temenin tante. Soalnya tante sendirian disini. Papi sama Arina
belum bisa kesini”
“iya, tante. Aku kesana
sekarang. Makasih”
***
“hai..”
Tanpa menjawab sapaannya, aku
langsung duduk di bangku samping tempat tidurnya dan mengelus lembut wajahnya
yang dihiasi memar di bagian kening. “kamu kenapa? Kok jadi kayak
gini?” tanyaku, panik sambil menangis.
“aku gak papa. Cuma kecelakaan
kecil aja tadi. Gak hati-hati, sih” Riki menjawab sambil tetap tersenyum. Gak
terlihat kalau tadi dia baru saja terlibat kecelakaan yang hampir merenggut
nyawanya.
“kecelakaan kecil?! gak papa
gimana?! Tangan kamu patah, masih bisa bilang gak papa? Ini jelas ada apa-apa, Riki!!”
tangisku tambah keras.
“aku yang sakit, kok kamu yang
nangis?” Riki malah tertawa.
“kan, aku yang salah. Aku yang
nyuruh kamu buru-buru tadi”
“Yang nyetir itu aku, bukan
kamu. Jadi yang salah ya, aku. Lagian aku beneran gak papa, kok. Cuma patah
tulang dikit. Aku masih hidup, masih bisa ngobrol sama kamu, gini. Apanya yang
apa-apa?”
“tapi, kamu juga salah sih” Riki
tiba-tiba jadi serius.
“aku minta maaf, ya?” kataku,
pelan.
“aku maafin, tapi kamu harus…” Riki
tersenyum penuh kemenangan. “cium aku dulu”
Wajahku langsung merah padam.
“ih, apaan sih!! Bercanda terus!!”
“siapa yang bercanda? Kamu
memang beneran salah. Jengukin pacar yang lagi sakit, bukannya disayang-sayang
malah ditangisin”
“iya deh, aku minta maaf ya,
sayang” kataku sambil membelai pelan rambutnya.
“eh, ngomong-ngomong kamu kok
cantikan sekarang? Lagi punya gebetan baru di kampus, ya?”
“ih, kok nanyanya kayak gitu,
sih? Nggak lah!!”
“ya udah, gak usah marah gitu.
Bercanda, kok hahaha..” Riki lalu menatap mataku dalam-dalam. “kalau kita
berdua udah lulus kuliah, nikah yuk?”
“kita kan masih 18 tahun, jangan
ngomongin nikah-nikahan dulu, ah. Belajar dulu yang bener, baru nikah” kataku
sambil tersenyum manis.
“tapi tungguin, ya? 3,5 tahun
lagi aku baru bisa balik ke Jakarta”
Aku mengangguk pasti. “iya, aku
tungguin”
“ngomong-ngomong, gak mau peluk,
nih? Gak kangen?” Riki merentangkan tangan kirinya.
“gak ah, lagi gak kangen”
candaku.
“aduh, badan aku sakit semua,
nih” Riki tiba-tiba mengerang kesakitan. Aku langsung panik. “kayaknya harus
kamu peluk, biar gak sakit”
Hhh.. bercanda lagi. Tapi kali
ini aku gak mau marah, aku langsung memeluknya. Riki lalu membelai rambutku
dengan tangan kirinya, lalu mencium keningku. “aku sayang kamu, Din”
***
sweet banget yu, keren keren :D
BalasHapusPenyampaian bahasa nya bagus cuma panjang sekali
BalasHapusPerbaiki lagi penggunaan kata depannya
Cerita yang bagus tentang kisah anak remaja
benar-benar bagus ceritanya :) memukau :D
BalasHapusManis sekali pilihan katanya untuk kisah cinta LDR ini hihi
BalasHapusso sweet waaak :D keren yu
BalasHapusSo sweet ki .. tapi bagian akhirnya aku tidak suka karena ada adegan yang tidak baik pakai di peluk, ma cium kening .. huh
BalasHapusso sweet yu... keren keren
BalasHapussosweet yuu cakepp;)
BalasHapusBgus yu ceritanya :D
BalasHapusso sweet yu, kerennn deh pokoke :D
BalasHapuscara penyampaiannya juga bagus..
Hahha bagus saya suka saya suka :3 ketiga-tiganya
BalasHapusketawa2 sendiri aku bacanya be, keren tapi jangan kepanjangan ya terus tadi ada typo tuh aturanya riki bukan arif ya kan ?
BalasHapusaduh, ceritanya mantaf yu, bikin enveh :D
BalasHapusso sweet yu hahaha :D
BalasHapusi love this story :D So sweet bgt :)
BalasHapussweet ..tpi gua masih pra 17 blm 17++ haha.. lanjutkan
BalasHapusceritnya so sweet,, :)
BalasHapuskeren yuk ceritanya :D
BalasHapus